Jumat, 31 Desember 2010

SELAMAT TINGGAL CINTA PERTAMA (inspired by flanella)


Goodbye first love. Thanks for ever make me know how beautiful of love and how hurt of despair


Drap…drap…drap.. drap… lagi – lagi Niken berlari ke tempat yang sama dan dijam yang sama juga. Sudah hampir 2 bulan setiap sepulang sekolah pada hari Rabu, dia selalu keluar kelas lebih awal dan berlari menuju perpustakaan. Namun, bukan untuk belajar ataupun meminjam buku seperti fungsi perpustakaan kebanyakan. Baginya, perpustakaan itu berfungsi untuk mengintai seseorang, atau lebih tepatnya memandangi seseorang yang di kaguminya selama bertahun - tahun.
Bertahun – tahun..??? Ya, Niken yang sekarang duduk di kelas XI IPA 4 memang sejak kelas 2 Smp sudah mengagumi cowok bernama lengkap Narai Reka Putra. Narai emang nggak begitu populer. Bukan anggota OSIS, anggota PASKIBRA, atau bahkan personil Marching Band. Namun dia begitu baik hati dan sangat murah senyum. Dia hanya siswa biasa dengan prestasi yang lumayan menonjol. Narai hanya mengikuti satu ekskul, jurnalistik. Walaupun hanya satu ekskul yang dia ikuti, namun pada tahun sebelumnya dia sempat menduduki jabatan ketua ekskul. Sekarang dia sudah kelas XII, otomatis jabatan ketuanya lengser ke angkatan di bawahnya. Dia hanya sesekali memantau perkembangan yang diadakan jurnalistik. Kadang para juniornya pun masih meminta saran tentang acara – acara yang akan diadakan jurnalis pada Narai.
Lantas apa yang membuat Niken Larasati, cewek super cuek dan berpenampilan alakadarnya, yang sebelum bertemu Narai sama sekali nggak pernah ngelirik cowok. Bahkan mungkin dia lupa kalau masih ada makhluk bernama “cowok” di dunianya.
Kejadian itu bermula ketika Niken kelas 8 dan Narai kelas 9. Sore itu di bulan Maret, Niken pulang terlambat dan masih terjebak hujan deras. Dia mencoba berteduh di pohon beringin depan sekolahnya.
“Haduuuhhhh… Pak Mardi gimana sihh, katanya mau ngejemput jam tiga. Ini malah udah hampir jam empat. Mana udah basah kuyub kayak gini.” Niken menggerutu. ”Huhh.. udah kelanjur basah, mending jalan kaki aja deh. Biar ntar Niken sekalian sakit. Pak Mardi deh yang kena damprat ama mama. Lagian, siapa suruh ngejemput telat mulu.” Niken yang memaki maki Pak Mardi,seorang supir keluarganya, mulai menyebrang jalan raya. Namun dia begitu tergesa – gesa hingga tak menyadari sebuah mobil pick-up yang ternyata berjalan oleng akan melintas.
Terlambat, Niken sudah berada di tengah jalan raya. Dan dia baru menyadari ada sebuah pick-up oleng ke arah dirinya. ”MAMPUSS LO KEN…!!!!” Niken mulai kebingungan. Berbagai pikiran buruk mulai merasuki otaknya. Bermaksud kembali ke sisi jalan sebelumnya pun juga percuma. Banyak kendaraan yang lalu lalang. Niken mulai ragu untuk melangkah maju atau mundur. Derasnya hujan juga membuat jarak pandangnya terganggu. Ya Allah, tolong Niken.. “TOOOLOOONGGGGG…..” Niken akhirnya berteriak.
BRRUUUUKKKKKK…….. Allah, apa Niken udah mati? Perlahan – lahan ia membuka mata. Sesaat tadi Niken serasa didorong ke seberang jalan oleh seseorang.
“Ver, Lo nggak papa kan??” seseorang mulai menggoncang – nggoncang tubuh Niken dan berteriak tepat di depan wajahnya.
“Gue nggak papa kok.” Niken juga berkata sedikit berteriak. Ver?? Apa setelah mati nama gue jadi “Ver” ya?? Niken yang belum sepenuhnya sadar mencoba mengucek – ngucek matanya yang dari tadi terguyur hujan. Dia mencoba melihat wajah sang penolongnya dengan sedikit membelalakkan matanya. Samar – samar Niken bisa melihat wajah sang penolongnya karena dia dalam posisi tersungkur dan hanya bisa terduduk sebab lututnya terbentur dan masih terasa sakit akibat didorong tadi. Wajahnya pun hanya mencapai dada orang tersebut. Sia – sia dia mendongak untuk melihat wajah penolongnya karena hujan langsung menghantam mukanya begitu dia menengadahkan kepalanya. Namun identitas tak hanya dari wajah orang tersebut. Di seragamnya tertulis ‘N. REKA PUTRA’.
“LO NEKAT BANGET SIHH…!!! SUDAH KAKAK BILANGIN GAK USAH YA GAK USAH…!!!“ Orang itu berteriak – teriak ke arah Niken.
“Hahh…??” Niken yang nggak tau apa – apa sontak juga jadi ikutan sewot. “ Ver? Nekat? Kakak??? Sebenernya loe dari tadi ngomong apa’an sihhh…??
“Non Niken…??” Pak Mardi akhirnya datang juga. Dia segera menghampiri majikannya yang terduduk di dekat trotoar. “Non kok malah duduk – duduk di sini sihh??” Walaupun keheranan, Pak Mardi langsung memayungi Nonanya meski terlambat. Karena dipayungin atau tidak, Niken tetap basah kuyub.
“Sori..sori.. kayaknya gue salah orang..!!” Dan tanpa kejelasan apapun, sang penolong Niken langsung saja menyebrang jalan.
“Ehh tunggu dulu. Nama lo.....” Kata – kata Niken terpotong karena sepertinya sia – sia ia berteriak, apa lagi penolongnya juga tak mungkin bisa mendengar teriakanya di tengah hujan gluduk seperti itu.
Terlihat penolongnya sedang mengambil sepeda yang tergeletak di seberang jalan. Sepertinya ketika menolong Niken tadi, dia membuang begitu saja sepedanya.
“Non, Enon masi mau duduk di situ berapa lama lagi?” Dengan tampang innocent Pak Mardi membuyarkan lamunan Niken yang malah membuat emosi Niken memuncak.
“Pak Mardi nyadar nggak kalo gara – gara barusan, nama Niken bakal kecantum di hot news besok pagi dengan judul ‘SEORANG SISWI MENINGGAL AKIBAT KELAMAAN NUNGGU SUPIRNYA’. ”Niken yang masih manyun berjalan meninggalkan Pak Mardi dan menuju mobilnya dengan sedikit pincang. Pak Mardi yang tidak tau apa – apa hanya bisa mengekor majikannya dan mengantarnya pulang.
Malam itu Niken masih terus teringat kejadian tadi sore. Tentu saja kejadian itu nggak mungkin bisa dilupakan seumur hidupnya. Dia terus memutar otak dan mencoba mengingat - ingat yang terjadi pada dirinya sore itu.
“Heran dehh… Gimana caranya coba? Jelas – jelas tadi nggak mungkin banget ada yang bisa nyebrang. Di belakang gue kan kendaraannya padet banget. Sebenernya tadi gue masih sempet sih kalo nyoba lari ke depan buat ngehindarin tuh pick – up sialan. Berhubung rasanya panik abis, mematung dah gue-nya… Begok..Begok..Begok..!!! Ehh, by the way cowok tadi siapa ya? Mana gue dipanggil “Ver” lagi. Sayang banget nggak bisa ngeliat jelas mukanya. Kan bisa gue interogasi ntar kalo ketemu. Bentar – bentar, tadi sempet liat nama dadanya itu kalo nggak salah ada Eka-Putra-Eka-Putra-nya gitu dehh… Haduhh… napa tadi pakek hujan deres segala sihh..??? Ayo donk Ken inget – inget lagi…!!!” Niken tak henti – hentinya berbicara sendiri di kamarnya. Kalaupun ada sesuatu hal yang tidak bisa diingatnya, dia spontan memukul – mukul kepalanya sendiri.
“OIIIIIYAAAAAA…” seperti tergambar ada lampu menyala terang di sekitar kepala Niken. ”Napa nggak gue cari lewat absensi di kelas - kelas aja besok. Tinggal nyari yang ada inisial ‘Eka’ ma ‘Putra’ aja kan..? Bener – bener cerdas lo, Ken.” Niken kegirangan dan mulai menyusun rencana untuk keesokan harinya, hingga akhirnya dia lelah dan tertidur.

Namun keesokann harinya usaha Niken sia – sia. Karena dalam absensi, nama penolongnya tertulis ‘Narai Reka P.’. Sedang yang di cari Niken adalah “Eka Putra”. Niken pun berpikir kalau malaikat penolongnya mungkin dari sekolah lain. Belakangan akhirnya Niken mengetahui malaikat penolongnya ketika upacara kelulusan SMP-nya, Narai terpilih menjadi siswa dengan nilai UAN tertinggi. Dari situ nama lengkap Narai pun terdengar jelas oleh Niken. Merasa belum puas, Niken juga mencari tahu SMA yang diincar Narai. ‘SMA NEGERI 1 KUNINGAN’, ketika mendengar nama SMA tersebut sempat membuat Niken patah semangat. Karena selain terdaftar sebagai sekolah elit, sekolah tersebut juga terkenal dengan cara masuknya yang sangat selektif. Dan mulai saat itu juga Niken bertekat untuk tekun belajar supaya bisa satu sekolah dengan penolongnya.

***
“Fiuuuuuhhhh.....”. Niken yang berada di dalam perpustakaan sambil memandangi kelas Narai tak henti – hentinya cengingisan. “Ternyata kalo diinget- inget, selama tiga tahun ini Kak Narai senyum ke gue cuman empat kali ya.. parahh benerr.. Mana yang tiga dari empatnya pas di kelas 10. Kapan peningkatanyaaaaa...????? Bener deh kata Rega. Kalau urusan laen gue nggak pernah tuh takut. Tapi kalo urusan ini napa gue cemen banget. Papasan aja udah bikin salting gak karuan. Dan jantung gue juga slalu aja lompat - lompat nggak normal. Hmmm... kayaknya dia nggak inget deh pernah nolongin gue pas ujan deres dulu. Iya laaaahhhhh... itu ujan parah banget, gue juga nggak bisa ngeliat jelas mukanya.” Tak henti – hentinya Niken berbicara sendiri. “By the way, tumben banget lama keluarnya. Aku cek ke kelasnya ahhh...” Niken buru – buru berbalik dan BRRRUUUKKK.....
“Aduh – aduh.. maaf - maaf nggak sengaja.” Seseorang yang menabrak Niken mencoba membantu Niken berdiri.
“ Nnggg.... enggak papa kok.” Sial bener.. ketemu Narai aja belon, jidat udah kepentok kayak gini. Niken menggerutu dalam hati sambil mencoba berdiri dengan memegangi dahinya. Dan ketika menatap orang yang menabraknya, BLAAAARRRRR...... kak Na... Naraii..?? Ni bukan gara – gara kepala gue kepentok tadi kan? Gue nggak salah liat kan? Niken reflek mengucek – ngucek matanya dan memandangi Narai dengan mulut menganga.
“ Haloooooww...?? kamu masih di dunia kan..??” Melihat Niken hanya terdiam, Narai melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Niken. “Apa ada masalah ama mata kamu?”
“Emmm.. ehhh... anu... he’ehhh... iya...” Aduhhh.... Tuhaaan tolong jangan buat Niken salting, ini momen yang Niken tunggu – tunggu. Niken mencoba menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskanya pelan – pelan. Dia pernah membaca di suatu situs kalau ini cara yang lumayan ampuh untuk menstabilkan jantungnya yang mulai berdegub lebih cepat dari biasanya.
“Ini komik kamu..? Boleh aku liat?” Tanpa menunggu jawaban Niken, Narai mulai membuka komik yang dijatuhkan Niken ketika bertabrakkan tadi.
“iii...iiyaa... Kenapa, kak? Ada yang salah?” TOLOLLL... kok ‘ada yang salah’ sihh.. seharusnya kan gue nanyak ‘kakak tau ceritanya?’. Kelihatan jutek deh gue...
“Kamu suka komik juga?? Suka One Piece sejak kapan, Ken?” Narai seolah tak menghiraukan pertanyaan dan kesaltingan Niken. Dia sibuk membolak – balik lembaran komik Niken.
KENN?? SUMPAH BARUSAN DIA MANGGIL NAMA GUE KAN?? Jadi selama ini dia juga tau nama gue?? Ya ampuuunn.. “udah lama kok. aku juga punya semua serinya mulai yang pertama sampek yang paling baru. By the way.. Kakak kok tau nama saya??” Niken terlihat girang dan sepertinya dia sudah mulai bisa mengatasi suasana.
“Lhhaaa itu di baju kamu ada. Itu ngebacanya beneran NIKEN kan??”
Siall... KePe-De-an banget sihh guee.. payahh. “Iya kak... hehehe” Kata Niken salting.
“ Beneran kamu punya semua serinya?? Keberatan nggak kalo aku minjem?? Emm... sebelumnya kenalin, aku Narai anak XII IPA 3.” Narai mengulurkan tangannya.
Nggak perlu ngenalin, mau tanggal lahir sampek makanan favoritmu gue juga dah tau. Sebelumnya Niken memang sering memantau biodata Narai melalui situs jejaring Facebook. Namun Wall dari Niken tak pernah dibalas Narai karena Narai sendiri jarang sekali membuka facebook-nya “Aku Niken anak XI IPA 4.” Niken juga membalas uluran tangan Narai.
“Oke Ken, terus mulai kapan nih aku bisa minjem???
“Terserah, apa besok aku bawakan? Mau yang seri keberapa?
“Nggak usah, Ntar aku aja yang ke rumah kamu. Kan kasian ntar kamu berat ngebawanya ke sekolah.
“Emmm.. oke dehh. Terus kapan mau ke rumah??
“Sekarang bisa? Sekalian kamu aku anterin pulang. Gimana?
“SEKARANG???” Niken sontak berteriak dan membuat pengunjung perpustakaan memandangi mereka.
“Harap tenang yaa!!!” penjaga perpustakaan mengingatkan.
“Memang kenapa kalau sekarang? Kamu ada acara? Ya udah besok – bes.....
“Eeenggakk papa kok... iyah nggak papa.. hehehe..”
“Sipp.. ayo!!!”
“Bentar kak, Niken mau ambil tas dulu ya??
“Oke, aku tunggu di depan gerbang ya..!!”
“Sipp...!!!”
Niken cepat – cepat menuju kelasnya dan segera menggendong tasnya. Tak henti – hentinya dia bersiul – siul. Hal itu benar – benar mengundang pertanyaan sahabatnya.
“Lo kenapa ken? Ulangan tadi nggak ngebikin lo jadi sarap kan???” Rega berkata sambil menyentuh dahi Niken.
“AWW.... apa – apaan sihh lo.. sakit tauuuu...!! Niken lupa kalau dahinya lebam karena tertabarak Narai.
“Orang cuman gue pegang jugak. Lo sebenernya kenapa sihh??
“Hehehe... Lo inget malaikat penolong gue yang sering gue ceritain itu kan??
“Si Narai? Ya-ya-ya.. terus? Tanya Rega cuek.
“Dia bentar lagi bakal ke rumah gue, dan sekarang mau nganterin gue pulang juga. Shishishihsishiii...”
“Itu doang?”
“Kok Respon lo gitu sihh.. Seharusnya lo ikutan seneng dong. Ini kan yang gue tunggu – tunggu selama tiga tahun. Gimana sihh.” Niken kecewa.
“Ahahahahaha... Tentu aja gue juga ikutan seneng dong, jadi mulai sekarang gue nggak perlu nebengin elo kannnn?
“Oooo.. jadi selama ini lo keberatan jadi tebengan gue?
“Becanda kaleee non... Terus gimana ceritanya lo bisa kenalan ama dia??
“Nyante broo.. Ntar malem gue telfon. Udah ditunggu nihh. Dadaaa..” Dengan wajah kegirangan Niken meninggalkan Rega yang tentunya punya segudang pertanyaan.

***
Hari demi hari hubungan Niken dan Narai makin akrab. Berawal dari pinjam meminjam komik sampai jalan – jalan ke mall dengan alibi beli komik bareng. Banyak teman Narai maupun Niken yang mengira mereka pacaran. Karena hampir tiap pulang sekolah mereka pulang bersama. Tapi baik Niken maupun Narai ketika ditanya teman – temanya tentang hubungan mereka, mereka hanya menjawab kalau mereka cuman teman dan nggak lebih. Tentu saja kalau dipihak Niken sendiri berharap bisa lebih dari sekedar teman. Tapi baginya hubunganya yang sekarang sudah cukup membuatnya bahagia. Namun masih ada satu tanda tanya besar yang benar – benar Niken ingin tanyakan kepada Narai. Niken pun memutuskan ke rumah Narai sore itu.
“Sore Om, Kak Narai ada ?” Tanya Niken Sopan.
“Eh ada nak Niken. Narai Ada kok, Di kamarnya mungkin. Lansung aja ke atas, Ken! Apa perlu om panggilkan?”
“Enggak usah Om, biar Niken saja yang langsung kesana. Permisi ya Om?” Setelah meminta izin masuk Niken segera menuju kamar Narai. Keluarga Narai memang sudah akrab sekali dengan Niken, karena seringnya Niken ke rumah Narai. Begitu juga Narai dengan keluarga Niken. Narai memang pandai sekali bergaul dan mengambil hati orang tua. Bahkan ibu Niken sering menanyakan Narai ketika Narai lama tak ke rumah Niken.
Saat Niken memasuki kamar Narai, ternyata Narai tak menyadari kehadiaran Niken. Terlihat Narai sedang memainkan gitar memunggungi Niken. Niken pun tak langsung menyapa Narai. Niken membiarkan Narai meneruskan petikan gitarnya yang beradu dengan suara Narai. Narai sedang menyanyikan lagu dari Westlife yang berjudul Close. Saat Narai akan melantunkan reff-nya, Niken ikut bernyanyi. Hal itu membuat Narai kaget dan sesaat menghentikan petikan gitarnya. Namun tak berlangsung lama, dan mereka mulai bernyanyi bersama.

You give me strength
You give me hope
You give me someone to love.
Someone to hold
When i’m in your arms
I need you to know
I’ve never been
I’ve never been this close

“Wehehe... kamu tau juga nih lagu?” Tanya Narai ketika menyelesaikan petikan gitarnya.
“Tau dong, kan aku juga penggemar Westlife.”Jawab Niken bangga.
“Hahaha... By the way, tumben sore – sore udah nyampek sini?”
“Hehehe... Ada yang mau Niken tanya’in, kak. Kakak nggak lagi mau kemana – mana kan?
“Nggak kok. Emang mau nanya apa’an?” Narai mulai antusias.
“Eemmmm.. gini kak, kakak masih inget nggak dulu pas kelas tiga SMP pernah nolongin cewek yang mau ketabrak mobil? Kejadiannya sore pas ujan deres. Inget nggak?
“Emm... Inget kok. Kamu temenya tuh cewek?”
“Ceweknya tuh aku kali mas, mas beneran nggak inget tampangku?
“Ooooo... jadi itu kamu? Sori, itu ujannya deres banget. Aku nggak bisa ngeliat jelas. Cuman keliatan samar – samar. Pantesan tiap aku ketemu kamu dulu – dulu kayak pernah ngeliat sebelumnya.”
“Enggak papa kali kak, aku juga sama nggak bisa ngeliat wajah kakak. Aku cuman tau kakak saat itu dari nama di seragammu.”
“Terus kamu kok bisa tau kalau Narai itu aku?”
“Sebelumnya aku nggak tau kalau nama Narai yang punya itu kamu. Tapi saat wisuda SMP dulu kan kakak dapet lulusan terbaik. Dari situ deh Niken bisa tau. Niken sebenernya mau terimakasih banget ma kakak. Soalnya kalau nggak ada kanu mungkin sekarang Niken juga nggak bakal ada di sini. Niken juga penasaran, kan saat itu kendaraannya padet banget, kakak kok bisa sih ngebawa Niken sampai pinggir jalan?”
“Ahahaha... kejadiannya udah dulu banget sihhh. Pokoknya yang aku pikirin saat itu, orang itu selamet. Bahkan aku nggak nyangka kalo aku juga ikutan selamet. Padahal aku sempet mikir kalo yang bakal ketabrak itu aku lohh.” Narai menjelaskan sambil memetik – metik senar gitar yang dipangkunya.
“Mas kok nekat banget sihh? Emang saat itu udah bosen idup apa? Jadi orang baik sih boleh – boleh aja, cuman kalo udah nyangkut nyawa dipikir dua kali dong!!” Tiba – tiba Niken jadi sewot.
“Yeee... kok jadi kamu yang snewen? Udah bagus kamu aku tolongin. Lagian sampek sekarang aku juga masih idup tanpa berpikir dua kali.” Narai gemas dan memencet hidung Niken tinggi – tinggi.
“Aduhh..duhhh..duhhh... Sakit nihh.. Waktu itu kakak juga sempet marahin aku nggak jelas gitu. Apalagi kakak juga manggil aku ‘Ver’, emang ‘Ver’ itu siapa sih?” Niken bertanya sambil memegangi hidungnya yang memerah.
Seketika wajah Narai memucat. Senyumnya tiba – tiba berubah kaku. Dia meletakkan gitarnya di samping tempat tidurnya. Dia tertunduk dan mulai bercerita. ”Vera. Dia adikku. Tapi dia udah meninggal 4 tahun lalu saat aku kelas dua SMP dan dia kelas 6 SD. Kejadiannya sama persis saat kamu mau tertabrak. Saat itu kami pulang dari mini market dan hujannya deras sekali. Dia melihat ada anak kucing di tengah jalan yang hendak menyeberang. Dia menyuruhq untuk menolongnya. Tapi aku terlalu takut untuk menyebrang karena jalanan ramai sekali. Aku mengatakan padanya untuk membiarkanya karena aku pikir kucing itu pasti bisa menyebrang sendiri. Aku bermaksud berjalan pulang, aku nggak sadar kalau Vera tak mengekor di belakangku. Ketika aku berbalik, ternyata Vera sudah berada di tengah jalan sambil memeluk anak kucing itu. Jalanan benar – benar ramai. Ditambah hujan petir yang membuat teriakanku lenyap ketika memanggil Vera. Dia begitu kebingungan namun tetap memeluk erat anak kucing itu. Saat dia mulai maju beberapa langkah, ternyata ada mobil yang menghampirinya. Dia tak sempat menghindar. Yang sempat dilakukannya hanya melempar anak kucing itu ke pinggir jalan. Aku tau mungkin
saat itu dia sadar bahwa dirinya sudah tak mungkin bisa selamat. Sehingga dia lebih memilih melemparkan anak kucing itu ke pinggir jalan daripada menyelamatkan nyawanya sendiri. Untuk anak berumur 12 tahun seperti dia, aku benar – benar tidak habis pikir dia bisa melakukan hal seperti itu. Aku benar – benar merasa bersalah. Andai saja saat itu aku yang punya keberanian untuk mengambil anak kucing itu, mungkin sekarang Vera masih di sini.” Terlihat Air mata mulai menetes di pipi Narai, namun ia segera mengelap dengan lengannya. “Maka dari itu, saat kamu akan tertabrak dulu benar – benar mengingatkan saat – saat kejadian Vera. Dan aku akan menyesal untuk kedua kalinya jika saat itu aku masih takut pada hujan deras dan jalanan yang ramai. Aku sendiri juga merasa heran, bagaimana bisa aku menyebrang saat menolong kamu. Yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana kau bisa selamat. Seseorang pernah mengatakan padaku, jika ada keinginan yang kuat, semuanya yang kita pikir tidak mungkin menjadi mungkin. Aku rasa yang Vera pikirkan saat menolong anak kucing itu sama seperti yang ku pikirkan saat menolongmu.” Ketika Narai menghentikan ceritanya, Niken melihat mata Narai berkaca – kaca dan menerawang jauh.
Niken melihat Foto di samping tempat tidur Narai. Di situ terlihat Narai sedang meringis dan tangan kirinya merangkul seorang gadis. Namun di sebelah kanan Narai juga ada lagi seorang gadis yang sedang mencubit pipi Narai. “Jadi apa kedua cewek ini adik mu semua?” Niken mengambil dan memandangi foto tersebut.
Mendengar pertanyaan Niken, lamunan Narai terbuyar.” Yang sebelah kiri itu memang adikku. Tapi yang sebelah kanan itu dulu tetanggaku, Bella. Dia temanku sejak kecil. Dia juga yang menghiburku saat aku terpuruk ketika Vera udah nggak ada.” Narai terlihat sedikit bisa tersenyum ketika menceritakan Bella.
“Emmm.. Terus Bella sekarang dimana?” tanya Niken sambil terus memandangi foto Narai, Vera, dan Bella.
“Dua tahun lalu dia pindah. Dia sekarang sekolah di Palembang karena ayahnya dipindahkerjakan di sana. Tapi kami masih sering berkirim email maupun sms. Terakhir dia bercerita bahwa dia akan melanjutkan kuliah di UI karena dia mendapat rekomendasi dari sekolahnya berkat juara Fisika Nasional yang didapatnya. Aku berharap bisa menyusulnya ke UI. Aku benar – benar ingin bertemu dengannya lagi. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan padanya” Narai terlihat begitu bersemangat membicarakan masa depannya.
“ Sepertinya dia terlihat begitu spesial, kamu suka sama Bella?” Niken benar – benar berhati – hati menanyakan ini. Sebelumnya memang tak pernah terpikir oleh Niken bertanya apakah Narai sedang menyukai seseorang.
“Hmmm... Gimana ya, dia begitu penuh pengertian. Saat adikku nggak ada, aku jadi sering banget uring – uringan. Dan karena Bella satu – satunya temen yang paling sering ke rumahku, dia juga yang paling sering aku marahi karena alasan yang nggak jelas. Padahal aku juga tau dia nggak salah. Tapi dia nggak pernah marah balik padaku. Dia sangat sabar. Dia bahkan malah tersenyum tiap aku selesai meneriakinya. Dia tetap sering mendatangiku meskipun pada akhirnya hanya mendengarkan omelan nggak jelas-ku. Orang tuaku saja nggak sanggup mengatasi perubahan sifat ku. Namun Lama – lama dia ngebuat aku sadar kalau nggak ada gunanya uring – uringan. Dia mulai bisa ngembali’in keceriaanku seperti saat adikku masih ada. Dia begitu baik. Kalaupun aku suka padanya, mungkin dia lah yang disebut cinta pertama bagiku.” Wajah Narai mulai memerah dan tersipu ketika bercerita tentang Bella.
CEETTTYYYAAAAAAARRRRR.... Bentar – bentar.. apa? Cinta pertama? Jadi Narai.... Kata terakhir yang diucapkan Narai seakan menjadi petir yang menyambar seluruh tubuh Niken. Niken serasa lemas, dia hanya bisa tertunduk mendengar kata – kata Narai barusan. Niken bahkan hampir menjatuhkan foto Narai yang masih dipegangnya.
“Yaampun, kok aku jadi nostalgia gini ya? Sori ya Ken, kamu jadi ngedengerin aku panjang lebar.” Narai tak menyadari ceritanya begitu menusuk Niken. Narai pun mengacak acak rambut Niken yang sedang tertunduk. “Ken? Kamu nggak papa?” Narai curiga kenapa tidak ada respon ketika dia mengacak – acak rambut Niken.
Niken segera mendongak dan terlihat wajahnya penuh air mata. “Hehehe... nggak papa kok, Niken cuman terharu ngedenger cerita kakak barusan.” Niken berbohong, karena sebenarnya dia menangis karena tau bahwa Narai menyukai cewek lain.
“Aku benar – benar beruntung bertemu kamu, kamu mirip sekali sama adikku. Begitu ceria tapi lumayan jutek. Kalian juga sama – sama nggak bisa dibilangin dan semaunya sendiri. Kemarin aku juga cerita tentang kamu pada Bella. Aku bilang kalau sekarang aku punya penggganti adikku.” Narai kembali mengacak – acak rambut Niken.
JLEBB.... jadi selama ini Narai nganggep gue cuman pengganti adeknya? Nggak lebih. Jadi perhatian, senyuman, dan semuanya yang dia kasih ke gue itu semua gara – gara gue mirip adeknya? Dan selama ini gue mikir perhatian dia ke gue karena dia juga punya perasaan yang sama ke gue. TOOOLOOOLLLLL!!!!! Niken benar – benar sudah tidak bisa lagi membendung tangisnya. ”Permisi ya kak, Niken mau ke kamar mandi dulu.” Tanpa mendengar Narai mengeijinkannya, dia segera pergi dan berlari ke luar rumah Narai.
Niken duduk di bawah pohon tak jauh dari taman dekat rumah Narai. Niken terisak – isak sambil membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Orang – orang yang lewat, memandanginya aneh. BRUUK... seseorang menelungkupkan jaket di kepala Niken, sehingga Niken yang sedang menangis tertutupi dari pandangan orang – orang. Niken merasakan orang tersebut kemudian duduk di sampingnya. Namun Niken terus saja menangis.
Niken berusaha mengatasi emosinya. Dia kembali mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan – pelan. Dia pun mengambil jaket yang menutupi dirinya dan memandang seseorang yang di sampingnya.
“Rega? Kok lo ada di sini sih?” Tanya Niken sambil masih sesenggukan.
“Lo lupa kalo gue tiap sore lari – lari lewat sini? Jawab Rega ketus.
“Owww..” Niken masa bodoh.
“Lo abis di apain ama Narai? Selidik Rega.
“Kok lo tau kalo gue nangis gara – gara dia?”
“Rumah dia kan deket sini, lagian nggak mungkin juga kan, seorang Niken yang garang nangis gara – gara permennya diambil temennya? ” Rega mulai geram.
“Emangnya gue balita apa?” Jawab Niken sewot.
“La terus kenapa? Lo ditolak ama Narai?” Rega berkata asal.
“Sembarangan aja lo...!!! Eemm.. tapi lo nggak salah juga sih. Cuman gue bahkan serasa ditolak sebelum gue sempet nyatain perasaan gue.” Niken kembali tertunduk.
“Udah dehh.. kalo cerita nggak usah sepotong – potong kayak gitu..!! Cerita..cerita... enggak..enggak.. Jangan cerita yang nggak – enggak!!”
“Wooooiii....!!! Lo jutek liat sikon donk...!! Masa’ iya gue lagi sedih gini masih lo jutekin sih.
“Ya ampyuunnn... Lagi cedihh eaa? Mo crita gugh ke Ega, cindt?
“Summpaaahhhh lo jijay banget” Niken mencubit lengan Rega gemas.
“Ahahahahaha... Abisnya lo nggak crita – crita sihhh...”
“Oke – oke gue crita.” Niken membetulkan posisi duduknya dan mulai bercerita. “Narai suka sama cewek lain. Dia suka ma tuh cewek udah sejak dia kecil malahan. Dia bilang tuh cewek first love-nya. Kalo diliat dari matanya, kliatanya dia cinta mati deh ma tuh cewek. Dan yang gue nggak habis pikir, selama ini dia ternyata cuman ngganggep gue adeknya. Soalnya sifat ma perilaku gue mirip ama adeknya yang udah meninggal 4 tahun lalu. Gue bener – bener begok, ge-er banget sih gue.” Niken tersenyum sinis. ”Fiuuhhh... jadi gini ya rasanya cinta ma seseorang lamaaaaaa banget, tapi ternyata tuh orang cinta mati ama cewek laen. Lo tau nggak Ga, yang gue rasa’in sekarang? Sakiiiiiittt mammpuuss... Dada gue rasanya kayak ditusuk – tusuk tiap keinget kata – katanya tadi.” Pandangan Niken menerawang jauh. Tiba – tiba dia tertawa aneh. “Ahaha.. hmm.. Jadi gini ya yang dirasain Riko. Lo inget kan Riko sahabat kita waktu SMP dulu? Taun kemaren dia nembak gue. Dia bilang kalau dia udah suka sama gue sejak pertama masuk SMP. Tapi berhubung taun kemarin gue masi suka sama Narai ya jelas gue tolak dia. Padahal katanya dia juga tau kalo gue sukanya sama Narai. Tapi dia bilang kalo gue ke Narai itu cuman utang budi, bukanya cinta. Tapi kalo cuman utang budi, kenapa sekarang rasanya gue ancur banget? Apa ini karma gara – gara gue udah bikin Riko sakit hati? Tapi emang gue cuman nganggep dia sahabat kok. Gue nggak perlu jadi munafik kan? Lagian gue juga tau kalo Eren suka sama dia. Nggak mungkin kan gue nusuk Eren dari belakang? Hmmm... Gue jadi kangen sama masa masa kita sahabatan berempat dulu. Gue, Elo, Eren, Riko.” Niken berkata panjang lebar.
“Ck..Ck..Ck..Ck..Ck... Sebenernya yang lo ama Riko rasain, gue juga ngerasa kali. Gue juga udah lama suka ama cewek. Tapi tuh cewek begok banget, nggak pernah nyadar ama perasaan gue. Dasar nggak peka!!” Rega menoleh pada Niken seakan yang dia maki adalah Niken. “Dia cuman nganggep perhatian gue kayak temen biasa. Gue dulu rela ngelepas dia juga karena temen gue juga suka sama dia. Gue juga tau dia bakal sulit suka sama gue. Jadi gue putusin untuk ngelindungin dia di deketnya aja. Yang gue pinginin tuh liat dia selalu bisa senyum, meskipun gue tau kalo senyumnya tuh bukan buat gue. Tapi ngeliat dia bahagia udah bikin gue seneng banget. Meskipun di sisi lain gue ancur banget karena kebahagiaan dia bukan karena gue. Tapi, ternyata tuh cewek malah dibikin ancur ama cowok yang dia suka. Pengen banget gue ngehajar tuh cowok.” Rega mulai mengepalkan tangannya.
“Haha.. Sabar broo.. Gue yakin orang sebaik lo pasti juga dapet yang baik juga. Tapi dari sini gue sadar satu hal. Dulu gue selalu berdo’a buat bisa deket ama Narai dan satu sekolah ama Narai. Dan do’a gue di kabulin kan? Ternyata gue pikir – pikir lagi, gue seharusnya nggak gitu minta sama Allah-nya. Seharusnya gue minta buat diberi yang terbaik. Bener gue bisa satu sekolah ama Narai. Tapi ternyata ini bukan yang terbaik buat gue. Andai dulu gue nggak satu sekolah ama Narai paling gue juga bakal lupa ama Narai dan nggak berharap terlalu tinggi ama Narai. So, ntar kalo lo berdo’a jangan pernah minta buat di jodohin sama ini itu, di jadi’in ini - di jadi’in itu, di kasih ini - di kasih itu. Lo harusnya minta di kasih yang terbaik. Jadi kalaupun ntar yang dikasih sama Allah nggak sesua ama harepan elo, gue yakin suatu saat itu bakal jadi jalan kebahagiaan buat elo.” Niken menarik nafas panjang dan menghembuskanya pelan – pelan. “Goodbye first love. Thanks for ever make me know how beautiful of love and how hurt of despair.” Niken tersenyum lega. Ia lalu merogoh kantong dan mengambil ponselnya. Banyak pesan dan telfon masuk yang semuanya dari Narai. “Mampus gue lupa...!!! Hapenya, gue silent sih” Niken berdiri sambil masih tetap menatap layar ponselnya.
“Napa Ken?”
“Tadi kan gue bilangnya ke Narai cuman mau ke kamar mandi doang. Yaudah gue nyamperin kakak gue dulu ya, Ga?
“Lo yakin nggak papa, Ken?
“Gue nggak mau lari, Ga. Gue kudu trima kenyataan. Emang nggak gampang ngelupain first love. Tapi gue juga bakal nyoba ngebuka hati gue yang udah ketutup selama 3 tahun ini. Hmm... seenggaknya punya kakak sepinter dia juga nggak ada ruginya kan? Komik – komiknya juga lumayan buat dipinjem. Hehehe.. Gue cabut dulu ya, Ga?” Niken berjalan beberapa langkah namun tiba – tiba berhenti dan berbalik. “Oh ya Ga, sebenernya cewek yang lo suka siapa sihh.............???????”


BY,
^^FENT_ACYL^^